Selasa, 08 Mei 2012

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Pembangunan Ekonomi


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi  Pertumbuhan Pembangunan Ekonomi
Oleh: Idris Parakkasi

A.       Pendahuluan
Berdasarkan dari  segi taraf hidup yang dicapai masyarakat, negara didunia sering dibedakan menjadi Negara berkembang dan Negara maju. Corak dan pola kegiatan ekonomi di kedua golongan Negara itu sangat berbeda dan memerlukan pendekatan yang berbeda dalam menganalisa persoalan yang dihadapi dan kebijakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Sebagian besar  negara berkembang termasuk Indonesia walaupun telah berusaha mengembangkan ekonominya selama hampir enam dekade, isu-isu mengenai pembangunannya tidak banyak mengalami perubahan. Ada dua hal yang sering menjadi alat ukur terhadap keberhasilan pembangunan suatu bangsa yaitu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi, dimana keduanya memiliki subtansi yang berbeda.
Pertumbuhan ekonomi hanyalah merupakan salah satu aspek saja dari pembangunan ekonomi yang lebih menekankan pada peningkatan output agregat khususnya output agregat per kapita. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.[1]
Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam definisi tersebut, yaitu :
1.  Proses,
2. Output per kapita, dan
3.  Jangka waktu yang panjang panjang.
Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat. Simon Kuznet mendefenisikan pertumbuhan ekonomi suatu negara sebagai “Kemampuan negara itu untuk menyediakan barang-barang ekonomi yang terus meningkat bagi penduduknya,  pertumbuhan kemampuan ini berdasarkan pada kemajuan teknologi dan kelembagaan serta penyesuaian ideologi yang dibutuhkannya”. Perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila jumlah balas jasa riil terhadap penggunaan faktor-faktor produksi pada tahun tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya.
Indikator yang digunakan untuk menghitung tingkat Pertumbuhan Ekonomi
  1. Tingkat Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto)
  2. Tingkat Pertumbuhan PNB (Produk Nasional Bruto)
Dalam praktek angka, PNB kurang lazim dipakai, yang lebih populer dipakai adalah PDB, karena angka PDB hanya melihat batas wilayah, terbatas pada negara yang bersangkutan.
Pembangunan ekonomi diartikan sebagai serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin banyak dan semakin berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan tehnologi semakin meningkat. Sebagai implikasi dari perkembangan ini diharapkan kesempatan kerja akan bertambah, tingkat pendapatan meningkat, dan kemakmuran masyarakat menjadi semakin tinggi.
Ilmu Ekonomi Pembangunan sekarang ini menghadapi masa krisis dan re-evaluasi. Ia menghadapi serangan dari berbagai penjuru. Banyak ekonom dan perencana pembangunan yang skeptis tentang pendekatan utuh ilmu ekonomi pembangunan kontemporer. Menurut Kursyid Ahmad,  sebagian mereka berpendapat bahwa teori yang didapat dari pengalaman pembangunan  barat kemudian diterapkan di negara-negara berkembang,  jelas tidak sesuai dan merusak masa depan pembangunan itu sendiri. Dari paparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu ekonomi pembangunan barat sama sekali tidak relevan dan tidak memenuhi syarat untuk diterapkan di negara-negara Islam. Karena itu prinsip-prinsip teori ini harus ditinjau kembali. Pendekatann yang jauh lebih kritis, harus dilakukan untuk mengobati penyakit-penyakit yang sudah ditularkan kepada negara-negara Islam.
Pada akhirnya,  kita memerlukan suatu konsep pembangunan ekonomi  yang tidak hanya mampu merealisasikan  sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam suatu pembangunan ekonomi secara tepat, teruji dan bisa diterapkan oleh semua negara-negara di belahan bumi ini, tetapi juga yang terpenting adalah kemampuan konsep tersebut meminimalisasir atau bahkan menghilangkan segala negative  effect pembangunan yang dilakukan.  Konsep tersebut juga harus mampu memperhatikan sisi kemanusiaan tanpa mulupakan aspek moral.
Kesadaran akan pentingnya nilai moral dalam ekonomi pembangunan telah banyak dikumandangkan oleh para ilmuwan ekonomi. Fritjop Capra dalam bukunya, ”The Turningt Point, Science, Society, and The Rising Culture, menyatakan, ilmu ekonomi merupakan ilmu yang paling bergantung pada nilai dan paling normatif di antara ilmu-imu lainnya. Model dan teorinya  akan selalu didasarkan atas nilai tertentu dan pada pandangan tentang hakekat manusia tertentu, pada seperangkat asumsi yang oleh E.F Schummacher disebut ”meta ekonomi” karena hampir tidak pernah dimasukkan secara eksplisit di dalam ekonomi kontemporer . Demikian pula Ervin Laszlo dalam bukunya 3rd Millenium, The Challenge and the Vision mengungkapkan kekeliruan sejumlah premis ilmu ekonomi,  terutama rasionalitias ekonomi yang telah mengabaikan sama sekali nilai-nilai dan moralitas . Menurut mereka kelemahan dan kekeliruan itulah yang antara lain menyebabkan ilmu ekonomi tidak berhasil menciptakan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi umat manusia. yang terjadi justru sebaliknya, yaitu ketimpangan yang semakin tajam antara negara-negara berkembang  (yang miskin) dengan negara-negara dan masyarakat kaya. Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa untuk memperbaiki keadaan  ini tidak ada jalan lain kecuali dengan merobah paradigma dan visi, yaitu melakukan satu titik balik peradaban.
Kebutuhan akan suatu konsep  baru pembangunan ekonomi dunia saat ini terasa lebih mendesak  dilakukan,  terutama dalam era globalisasi.  Mark Skousen dalam bukunya Economic on Trial : Lies, Myths and Reality banyak mengkritik mainstream ekonomi yang selama ini  dianut oleh negara-negara dunia.
B.   Permasalahan
1.   Apa perbedaan antara pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi ?
2.   Faktor-Faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ?
3.   Bagaimana pertumbuhan  dan pembangunan dalam perspektif syariah ?
C.    Pembahasan
1.    Apa Perbedaan Pembangunan Ekonomi dengan Pertumbuhan Ekonomi
Dalam pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi adapun perbedaanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur perekonomian.
b. Pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif,  yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan.
Persamaan Pembangunan Ekonomi dengan Pertumbuhan Ekonomi. Kedua-duanya merupakan kecenderungan di bidang ekonomi. Pokok permasalahan akhir adalah besarnya pendapatan per kapita. Kedua-duanya menjadi tanggungjawab pemerintah dan memerlukan dukungan rakyat.  Kedua-duanya berdampak kepada kesejahteraan rakyat.
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth).  Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.[2] Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik. Sumber daya alam yang dimiliki mempengaruhi pembangunan ekonomi.

2.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan pembangunan Ekonomi?
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi,  Namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor non ekonomi. Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diantaranya:
1.      Faktor Sumber Daya Manusia,  Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.
2.   Jumlah penduduk. Menurut Adam Smith[3] bahwa perkembangan penduduk akan mendorong pembangunan ekonomi, karena bertambahnya penduduk akan memperluas pasar dan perluasan pasar akan meninggikan tingkat spesialisasi dalam perekonomian  spesialisasi tersebut. Akibatnya maka tingkat kegiatan  ekonomi akan bertambah tinggi. Perkembangan spesialisasi dan pembagian pekerjaan akan mempercepat proses pembangunan ekonomi, karena spesialisasi akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mendorong perkembangan tehnologi. Sedangkan menurut Richardo dan Malthus, perkembangan penduduk yang berjalan dengan cepat akan memperbesar jumlah penduduk menjadi dua kali lipat dalam waktu satu generasi, akan menurunkan kembali tingkat pembangunan ketaraf yang lebih rendah. Pada tingkat ini pekerja akan menerima upah sangat minimal, dan ini dapat menyebabkan tingkat perekonomian mencapai stationary state dan pembentukan modal sulit dicapai yang mengakibatkan pengusaha sulit mendapatkan keuntungan.
3. Faktor Sumber Daya Alam, Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
4. Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.
5. Faktor Budaya,  Fafktor  budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya yang dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.
6. Sumber Daya Modal, Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.
7. Kebijakan Pemerintah, Kebijakan pemerintah terhadap masalah moneter, keberpihakan pada pergerakan sector riil dan kemudahan dalam  aktivitas bisnis akan memudahkan pertumbuhan ekonomi. (penulis)
Sedangkan faktor non ekonomi mencakup kondisi sosial kultur yang ada di masyarakat, keadaan politik, kelembagaan, dan sistem yang berkembang dan berlaku.
3.      Bagaimana Pertumbuhan  dan Pembangunan Dalam Perspektif Syariah ?

Dalam ekonomi sekuler, pembangunan ekonomi mengacu pada suatu proses dimana rakyat suatu  negara atau daerah memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan kenaikan produksi barang dan jasa perkapita secara terus menerus. Menurut W.A. Lewis Pertumbuhan terjadi jika output meningkat perjam kerjanya. Jadi pembangunan ekonomi dinyatakan sebagai kenaikan pendapatan perkapita bangsa dalam suatu masa tertentu. Pertumbuhan ekonomi mengukur kapasitas ekonomi dalam menaikkan suplai barang dan jasa tanpa parubahan biaya keuangan dan biaya sebenarnya. Olehnya itu ekonomi sekuler menentukan kemajuan dengan tiga ukuran. Pertama, pendapatan perkapitanya harus agak tinggi
Kedua pendapatan perkapitanya senantiasa naik dan ketiga kecenderungan kenaikan pendapatan perkapita harus terus menerus dan mandiri.
Konsep Islam tentang pembangunan ekonomi lebih luas dari konsep ekonomi sekuler dengan cakupan dimensi yang multidimensional meliputi aspek material dan spiritual yang dikenal  dengan “Tazkiyah Nafs”[4] sebagaimana firman Allah SWT QS. Asy-Syams, 91: 7-10. Pola ideal keyakinan Islam  berupa motivasi yang mendorong seseorang untuk bekerja dan mempengaruhi  pola-pola aktual perilaku Islam, dalam memanfaatkan sumber-sumber daya daya dari Allah secara efisien (QS. Al-Jumu’ah, 62:10). Rasulullah bersabda, “Bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada makanan yang dihasilkan oleh tangan sendiri.” (HR. Bukhari)

3.1.   Syarat pertumbuhan dan Islam sebagai faktor pembangunan
Prasyarat pertumbuhan ekonomi yang paling penting dalam pembangunan ekonomi adalah, pertama sumber daya alam dan kedua perilaku manusia. Menurut professor Lewis,  pertumbuhan output  perkapita disatu pihak tergantung pada sumber daya alam yang tersedia dan pihak lain pada perilaku manusia. Hal ini dapat dilihat pada negara-negara dengan sumber daya alam yang sama menunjukkan kemampuan perkembangan yang tidak sama, hal ini merupakan tantangan yang dapat diterima atau ditolak oleh pemikiran manusia. Seperti negara Australia, swiss, Belanda, Liberia, Argentina. sebagai negara  memiliki lahan 1 ha berbanding 0,1 ha per kapita menjadi negara yang cukup maju baik pertanian maupun industrinya. Sebaliknya Negara-negara Timur Tengah mempunyai sumber minyak yang menajubkan, tetapi masih merupakan  tergolong negara yang belum maju.  Dari analisis ini telah terbukti bahwa perilaku manusia merupakan pencerminan keinginan untuk pertumbuhan memainkan peranan yang sangat penting dalam menentukan pembangunan ekonomi. Pembentukan perilaku manusia  merupakan suatu tantangan yang berat termasuk dinegara-negara berkembang. Permasalahan ekonomi, sosial dan politik juga tidak bisa dipisahkan dari masalah pembentukan karakter manusia. Sekarang ini negara-negara Islam dalam posisi yang lebih baik untuk melakukan usaha pembangunan ekonomi yang lebih besar karena dua sebab. Pertama, banyaknya sumber daya alam yang telah ditemukan yang sebelumnya belum termanfaatkan. Kedua nilai-nilai Islam dapat digunakan untuk menyesuaikan sosio-ekonomi dan sosio-politik dalam membentuk perilaku manusia. Olehnya dalam Islam itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menyiapkan perilaku manusia sebagai agen pembangunan. Pertama membentuk karakter manusia yang seimbang, seimbang antara materi dan spiritual, pribadi dengan sosial, jasmani dan rohani, intelektual dan emosional. Kedua, Membentuk pribadi yang memiliki produktivitas dengan keseimbangan antara prestasi dan reward. Ketiga pemanfaatan sumber daya secara optimal dengan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam.
Selain itu upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan pembangunan ekonomi antara lain:
1.   Pembangunan sumberdaya insani merupakan tujuan pertama dari kebijakan pembangunan. Dengan demikian, harus diupayakan membangkitkan sikap  dan apresiasi yang benar, pengembangan watak dan kepribadian, pendidikan dan latihan yang menghasilkan  keterampilan, pengembangann ilmu dan riset serta peningkatan partisipasi.
2.    Perluasan produksi yang bermanfaat. Tujuan utama adalah meningkatkan jumlah produksi nasional di satu sisi dan tercapainya pola produksi yang tepat.  Produksi yang dimaksud  bukan hanya sesuatu yang dapat dibeli orang kaya saja, namun juga bermanfaat bagi kepentingan ummat manusia secara keseluruhan. Produksi barang barang yang dilarang oleh Islam tidak akan diperkenankan, sedangkan yang bermanfaat untuk ummat akan ditingkatkan. Dalam kebijakan demikian, pola investasi dan produksi disesuaikan dengan prioritas Islam dan kebutuhan ummat. Dalam hal ini ada tiga hal yang diprioritaskan : Pertama, Produksi dan tersedianya bahan makanan dan kebutuhan pokok dalam jumlah yang melimpah, termasuk bahan-bahan konstruksi untuk perumahan,  jalan dan kebutuhan dasar lainnya dengan harga yang cukup murah.  Kedua, Perlunya pertahanan dunia Islam di negara-negara Islam, maka dibutuhkan peralatan  persenjataan yang memadai. Ketiga, Swasembada di bidang produksi kebutuhan primer.
3.    Perbaikan kualitas hidup dengan memberikan prioritas pada tiga hal, Pertama,  terciptanya lapangan kerja dengan segala penataan struktural, teknologi, investasi, dan pendidikan. Kedua, sistem keamanan nasional yang luas dan efektif yang menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Dalam hal ini zakat  harus dijadikan sebagi instrumen utama. Ketiga,  Pembagian kekayaan dan pendapatan dan merata. Harus ada kebijakan pendapatan yang mampu mengontrol tingkat pendapatan yang terendah (UMR), mengurangi konsentrasi ketimpangan dalam masyarakat. Salah satu indikator tampilan pembangunan adalah berkurangnya tingkat perbedaan pendapatan masyarakat. Karena itu sistem perpajakan harus diatur sebaik-baiknya.
4.    Pembangunan yang berimbang,  yakni harmonisasi antar  daerah yang berbeda dalam satu negara  dan antar sektor ekonomi. Desentralisasi ekonomi dan pembangunan semesta yang tepat, bukan saja merupakan tuntutan keadilan tetapi juga diperlukan untuk kemajuan yang maksimum. Salah satu tujuan pembangunan adalah melalui desentralisasi, maka pemerintah daerah perlu diberikan keleluasaan untuk mengembangkan daerahnya sendiri dengan meningkatkan peran serta masyarakat. Dengan terus melakukan check  and  balances  serta bimbingan dan pengawasan yang kuat, akan membentuk daerah itu menjadi agen pembangunan yang serba guna. Tujuan perencanaan pembangunan yang komprehensif akan sulit dicapai bilamana kita tidak mampu mengembangkan desentralisasi kekuasaan dan pengawasan yang lebih efisien  serta mengurangi birokratisasi masyarakat. Dalam konteks ini, maka perusahaan-perusahaan swasta kecil dan menengah harus digalakkan dan dikembangkan.  Para penguasa daerah harus menciptakan iklim lingkungan yang tepat dan kondusif yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan juga  harus didorong agar dapat meningkatkan investasi yang lebih besar lagi. Mereka juga diarahkan agar menjadi organisasi bisnis yang maju. Mereka itulah yang menjadi instrumen pembangunan ekonomi yang sarat nilai serta membagi rata tingkat pendapatan kepada seluruh masayarakat.
5.    Teknologi baru, yaitu berkembangnya teknologi tepat guna yang sesuai  dengan kondisi, kebutuhan, aspirasi negara-negara, khususnya negara-negara muslim. Proses pembangunan yang mandiri hanya dapat terwujud jika negara tersebut sudah bebas dari ”bantuan” asing serta mampu menguasai teknologi yang berkembang dalam lingkungan sosial dan alam yang bebeda, teknologi itu selanjutnya akan diadaptasikan dengan kreatifitas sendiri. Karena itu, perlu ada riset yang intensif dan luas.
6.    Berkurangnya ketergantungan pada dunia luar dan dengan semakin menyatunya kerjasama yang solid sesama negara-negara Muslim. Adalah tugas ummat sebagai khalifah, bahwa ketergantungan pada dunia non-Islam dalam  semua segi harus diubah menjadi kemandirian ekonomi. Harga diri negara-negara muslim harus dibangun kembali dan pembangunan kekuatan serta kekuasaan harus diwujudkan secara bertahap. Ketahanan dan kemerdekaan dunia Islam serta kedamaian dan kesentosaaan  ummat manusia merupakan tujuan utama yang harus mewarnai dalam perencanaan pembangunan.  Karena itu perlu ada perubahan mendasar  dalam isi dan pola perencanaan  pembangunan kita.

E. Kesimpulan
Laju pertumbuhan suatu perekonomian  ditentukan beberapa hal antara lain; (i) luas lahan (termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya), (ii) Jumlah dan tingkat perkembangan penduduk, (iii) Jumlah stock modal dan perkembangannya, (iv) tingkat tehnologi dan penerapannya. Dalam konsep pertumbuhan ekonomi perspektif syariah ada dua hal faktor penentu yaitu, pertama sumber daya alam dan kedua, perilaku manusia.






DAFTAR PUSTAKA
Arifin, B. 2004. Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Abdul Mannan,1993. Teori dan Praktek Ekonomi Islam.  Dana Bhakti Wakaf, Jakarta.

Bannock, Graham, R. E. Baxter dan Evan Davis. 2004. A Dictionary of Economics.
Inggris: Penguin Books Ltd.

N .Gregory MAnkiw,2000.teori makro ekonomi.Erlangga;Jakarta.

P.Todaro Michael,1995. Ekonomi Untuk Perkembangan Bumi Aksara: Jakarta.

Riedel, J. 1992. Pembangunan Ekonomi di Asia Timur: Melakukan Hal yang Lazim
Terjadi. Dalam Hughes, H. (ed.). Keberhasilan Industrialisasi di Asia Timur. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Samuelson,Nordhaus,2001. Ilmu Ekonomi-Edisi Bahasa Indonesia.PT. Media Global
Global Edukasi;Jakarta.

Sudarsono, 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta.


Sukirno. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan.
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Todaro, M.P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh. Erlangga,
Jakarta.




[1] Bannock, Graham, R. E. Baxter dan Evan Davis. 2004. A Dictionary of Economics. Inggris: Penguin Books Ltd

[2] Bannock, Graham, R. E. Baxter dan Evan Davis. 2004. A Dictionary of Economics. Inggris: Penguin Books Ltd

[3] Sadono, Sukirno, 2010. Ekonomi Pembangunan. Proses, Masalah dan Dasar Kebijkan. Kencana Predana Media Group. Jakarta. hl. 244
[4] Abdul Mannan,1993. Teori dan Praktek Ekonomi Islam.  Dana Bhakti Wakaf, Jakarta. hl.379

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar